Sunday, 01 April 2012 00:00

Mengelu-elukan Yesus

Baca: Yohanes 12:13

Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel! (Yohanes 12:13).

 

20120401-imageHari ini kita merayakan hari Minggu Palmarum, yang selalu jatuh pada hari Minggu sebelum Paskah. Perayaan ini merupakan perayaan masuknya Yesus ke Kota Yerusalem sebelum Ia disalibkan (Markus 11:1-11; Matius 21:1-11; Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19). Masuknya Yesus ke Yerusalem merupakan peristiwa yang istimewa, sebab terjadinya sebelum Yesus mati dan bangkit dari kematian. Itulah sebabnya Minggu Palmarum disebut pembuka pekan suci, karena dalam satu minggu ke depannya ada tiga hari suci, Kamis Putih, Jumat Agung, dan Paskah.

     Masuknya Yesus ke Yerusalem, lima hari menjelang penyaliban-Nya, disambut layaknya seorang raja. Lambaian daun palem dan sorak-sorai membahana sepanjang perjalanan-Nya: “Hosana!” yang berarti “Selamat sekarang”. Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!

     Daun palem memiliki warna hijau, warna dari tumbuh-tumbuhan dan musim semi. Bagi masyarakat Yahudi daun palem yang tumbuh subur, hijau dan segar adalah simbol kemenangan, dari musim semi atas musim salju atau kehidupan atas kematian. Daun palem adalah simbol kemenangan dan digunakan untuk menyatakan kemenangan Kristus atas dosa dan kematian.

     Kedatangan Yesus ke Jerusalem diharapkan membawa berkat. Penduduk Yerusalem mengira bahwa inilah saat yang tepat untuk mengangkat Dia sebagai raja Israel,  membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Sayang perkiraan mereka meleset. Eluan Hosana mereka, lima hari kemudian, berubah menjadi hujatan, “Salibkanlah Dia!” Seruan yang berubah itu adalah bukti penolakan mereka terhadap peran Tuhan Yesus sebagai raja Israel.

     Bukankah kita, terkadang bahkan sering kali, juga demikian. Ketika hidup kita berjalan baik-baik saja, lancar, sukses, bahagia, betapa mudah kita mengelu-elukan Dia, bersyukur kepada-Nya. Tetapi manakala masalah dan penderitaan datang menyapa, tak segan kita secepat kilat menghujat Dia.

     Di beberapa gereja Minggu Palmarum ditandai dengan dibagikannya daun palem kepada umat. Umat melambai-lambaikan daun palem sambil bernyanyi, menghayati     bersama Yesus dalam arak-arakan menuju Yerusalem. Sayang, penghayatan itu sering hanya secara ritual formal. Sarat dengan kata-kata indah, tetapi tanpa rasa dan makna, sehingga terasa kering kerontang, kaku, beku, dan mati. Masuk akal, namun tidak menyentuh hati.

     Hari ini dan ke depannya mari kita setia mengelu-elukan Yesus dengan sepenuh cinta. Saya teringat dalam film Jesus Christ, Superstar, ketika Minggu Palma itu massa menyanyi “Christ, You know I love you. Did You see I waved?“Wahai Kristusku, Kau tahu betapa aku mencintai-Mu. Adakah Kaulihat lambaian tanganku?” Biarlah kita akan selamanya mengelu-elukankan Yesus tanpa pernah (lagi) menghujat-Nya dalam suka duka kehidupan kita. —Liana Poedjihastuti

Hosana! Hosana!

Saturday, 31 March 2012 00:00

In Hoc Signum Vinces

Baca: 1 Petrus 2:24

 

Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran… (1 Petrus 2:24).

 

     Adalah Constantine, seorang jenderal Romawi, yang menolong orang-orang Kristen pada abad-abad permulaan dari penganiayaan, siksaan dan pembunuhan yang dilakukan utamanya oleh orang Romawi. Pada malam sebelum Constantine berperang melawan pasukan Romawi, yang berjumlah sangat besar, dia bermimpi. Dalam mimpinya itu seseorang memberi tahu agar dia menandai semua perisainya dengan tanda SALIB yang besar. Kata orang dalam mimpinya itu “In Hoc Signum Vinces” (dengan tanda ini engkau akan menang). Contantine mengikuti nasihat orang dalam mimpinya itu dan mendapat kemenangan. Sejak itu berakhirlah penganiayaan terhadap orang-orang Kristen yang telah berlangsung selama berabad-abad. Nama Constantine diabadikan untuk nama Kota Constantinople yang sekarang dikenal dengan nama Istanbul.

     Awalnya, salib merupakan lambang kutuk dan kehinaan: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13). Kemudian dalam kekristenan salib dimaknai sebagai lambang kesengsaraan Kristus sekaligus lambang keselamatan umat manusia. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24).

     Dengan salib kita telah menang atas kuasa dosa dan kematian kekal. “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa.... Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (1 Korintus 15:54-57).

     Kita yang telah ditebus oleh Kristus dipanggil untuk menanggalkan perbuatan daging. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya... barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:19-21).

     Sama seperti Constantine memenangi peperangan melawan tentara Romawi dengan perisai bertanda salib, kita juga akan menang melawan keinginan daging dengan senantiasa menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. —Liana Poedjihastuti

 

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. —Lukas 14:27

Friday, 30 March 2012 00:00

Yudas

Baca: Matius 26:14-16

 

Ia berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya (Matius 26:15).

 

     Yudas sebenarnya adalah seorang patriot yang cinta negara. Ia punya cita-cita luhur: ikut dalam upaya membebaskan Israel dari penjajahan Romawi. Ketika Yudas mengikut Yesus, ia melihat Yesus sebagai Sang Pahlawan Pembebas itu yang tentunya menurut akal sehatnya “program” Yesus  akan sama dengan yang ia cita-citakan.

     Ketika makin hari Yesus bukannya makin memperlihatkan diri sebagai pahlawan itu, bahkan di mata Yudas Ia “sudah tak bisa diharapkan lagi”, ia pun marah. Barangkali dalam hati ia berkata: “Wah, Yesus itu ternyata tak lebih dari seorang budak, yang kerjanya cuma melayani.” Maka ia pun tak ragu menjual Yesus dengan harga seorang budak. Kalau saja Yudas itu seorang yang pragmatis dan  bukannya idealis, ia pasti menjual Yesus dengan harga mahal. Yudas menjual Yesus seharga budak karena ia ingin menunjukkan “nilai sesungguhnya” dari sosok Yesus itu: sekadar seorang budak, sama sekali bukan pahlawan, apalagi pembebas.

     Kita, pada zaman ini, sebenarnya sering seperti Yudas juga. Kita sering melihat Yesus sekadar sebagai “budak” yang wajib mengabulkan semua keinginan kita. Pikir kita, bukankah (salahnya) Yesus sendiri bersabda: “Mintalah, maka akan diberi....” Dan, ketika suatu saat ada keinginan kita yang tak dikabulkan, kita marah, lalu tega juga kita menjual Yesus dengan harga budak (karena sebelumnya kita memang sudah memandang Yesus sebagai “budak, tukang” mengabulkan keinginan kita).

     Berapakah harga Yesus di mata kita? Lihatlah ketika kita menyiapkan kolekte. Yesus cuma minta sepuluh persen, tetapi berapa yang kita berikan? Ada joke yang mengatakan “kalau mau tukar uang kecil, ya ke gereja.” atau “Yesus itu lebih murah daripada tukang becak dan tukang ojek”.

     Ketika kepentingan kita berbenturan dengan apa yang Yesus maui, lihatlah berapa yang kita siap berikan bagi-Nya. Lihatlah ketika Yesus ingin kita murah hati kepada sesama, di tengah kebiasaan kita menawar mati-matian kepada pedagang kecil sayur yang lewat depan rumah kita.

     Lalu kita menyanyikan “Aku cinta Yesus” atau “Yesus itulah yang paling utama”. Apa benar? Itu kan selagi Yesus menjelang masuk Yerusalem, bukan menjelang masuk Taman Getsemani.

     Marilah kita renungkan lebih mendalam, sebenarnya berapa harga Yesus di hadapan kita? Jangan-jangan cuma seharga seorang pelayan, yang wajib melayani dan mengabulkan semua keinginan kita. —Yahya Wardoyo

 

Siapa Yesus bagi Anda?
Thursday, 29 March 2012 00:00

Sikap Hati dalam Berdoa

Baca: Markus 1:40-42

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku” (Markus 1:40). 

 

     Sebagai orang-orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat yang penuh kuasa dan kasih, kita tentu juga percaya, bahwa Dia mampu memberikan apa yang kita mohonkan kepada-Nya. Atas dasar itu kita tidak segan-segan datang kepada-Nya melalui doa, guna memohon pertolongan-Nya, terlebih-lebih ketika kita sedang dalam kesulitan dan kesengsaraan. Perbuatan semacam itu tidak keliru, bahkan baik, karena mengungkapkan iman kepercayaan kepada-Nya. Meskipun demikian, dari kisah tentang orang kusta yang datang memohon penyembuhan kepada Tuhan Yesus itu, kita perlu memperhatikan beberapa hal, setiap kali kita datang kepada-Nya dalam doa-permohonan kita.

     Pertama, permohonan kita itu harus didasari dengan kerendahan hati yang tulus, karena mengakui ketidaklayakan kita di hadapan-Nya. Orang kusta itu sampai berlutut di hadapan Yesus, ketika hendak menyampaikan permohonannya. Kedua, selain kerendahan hati, kita juga harus yakin benar dan tanpa ragu-ragu, bahwa Tuhan mampu dalam memenuhi permohonan kita. Orang kusta itu mau bersusah-susah mencari dan menemui Yesus, serta berucap kepada-Nya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. Ketiga, permohonan harus disertai pengakuan akan kedaulatan Tuhan dalam mengabulkan atau menolak permohonan kita. “Kalau Engkau mau”, bukannya “Engkau harus mau!” Jangan sekali-kali beranggapan, kita dapat dan boleh memaksa Tuhan memenuhi kehendak kita. Apalagi dengan ancaman, kalau permohonan tidak dipenuhi-Nya, kepercayaan kita kepada-Nya akan berkurang atau bahkan lenyap. Oleh sebab itu, pada akhir doa, ucapan kita seharusnya selalu, “Kehendak-Mu yang jadi, bukannya kehendak-ku”, disertai keyakinan bahwa kehendak Tuhan itu pasti yang terbaik untuk kita. —Pdt. Em. Sutarno

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, untuk mendatangkan kebaikan, bagi mereka yang mengasihi Dia. —Roma 8:28 

Wednesday, 28 March 2012 00:00

Kapel

Baca: Matius 6:5-8

 

...jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi...” (Matius 6:6).

 

     Ada sebuah kapel di kompleks Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang, tempat ibadah para biara dan komunitas Katolik di lingkungan rumah sakit. Sepanjang hari kapel ini selalu terbuka. Kapel berukuran sekitar 6 x 15 meter ini memiliki balkon di bagian belakang, tepat di atas pintu masuk. Ada empat belas gambar Jalan Salib yang dipajang pada kedua sisi dinding dari barisan bangku dengan nave di tengah, kanan dan kiri dinding. Di atas mimbar dihiasi muqarnas lengkung dengan empat pasang jendela mosaik kaca yang memperindah interior kapel.

     Selama hampir tiga minggu, setiap pagi dan malam hari, saya selalu berdoa di dalam kapel yang sederhana itu. Tenang dan teduh, suasana yang sangat saya rindukan untuk menghangatkan hati saya yang lelah mendampingi istri saya yang sedang sakit. Ya, berdiam di hadapan Tuhan begitu damai. Saya menemukan damai sejahtera Tuhan setiap kali berdoa di dalam kapel, saya kira sama seperti juga berdoa di tempat-tempat yang lain di bumi ini, kita bisa berdoa kapan saja.

      Saya bukan umat Katolik tetapi begitu damai hati saya berdoa di dalam kapel, dan saya rasa tidak masalah kita berdoa di mana pun. Tidakkah kita juga biasa berdoa di dalam mobil, mall, kafe, bahkan di jalanan pun kita bisa berdoa. Tidak penting di mana kita menemukan keteduhan suasana doa, yang terutama adalah bagaimana kita bisa membangun komunikasi dengan Tuhan Yesus. Saat saya berdoa di dalam kapel, Tuhan menyambut saya. Hati saya dipenuhi kasih karunia-Nya, damai sejahtera membungkus kegalauan saya.

     Tidakkah dahulu ada banyak gereja yang didirikan di atas bekas kuil dewa-dewi Yunani ataupun Romawi? Sekarang ruko dan lantai mall juga digunakan untuk ibadah. Kita memang bisa di mana saja berdoa dan bersaat teduh, karena sesungguhnya Tuhan hadir di dalam hati kita. Tetapi Yesus bersabda: “...apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang” (ayat 5).

     Jika kita bisa berdoa di mana pun, mengapa tidak membangun rumah kita—kamar tidur, ruang keluarga, ruang kerja atau sudut rumah kita menjadi tempat kita bersaat teduh, berdoa dan bersekutu dengan Tuhan? Tidakkah Yesus mengajarkan, “...jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi...” (ayat 6). Sebelum kesibukan membungkus kita. Setelah kesibukan melelahkan kita, betapa indahnya kita menjumpai Tuhan.  Kita bisa meneladani Yesus: “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ” (Matius 14:23). Intinya, Yesus mengajarkan agar kita senantiasa bersekutu dengan diri-Nya, Allah Bapa dan Roh Kudus. —Agus Santosa

 

Tuhan ingin agar doa kita menjadi bagian yang lazim dari kehidupan kita. —Joyce Meyer

Tuesday, 27 March 2012 00:00

Orang Besar Sejati

Baca: Markus 11:1-11

 

“Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskan keledai itu dan bawalah ke mari. Dan jika ada orang mengatakan kepadamu: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: Tuhan memerlukannya...” (Markus 11:2-3).

 

     Entah sudah berapa kali kita berpapasan dengan frase ini sewaktu membaca Alkitab, namun bila dipikir sejenak, frase ini terasa sangat ironis sekali. Bukankah Yesus itu Anak Allah? Bukankah Dia ilahi? Bukankah Dia Pencipta alam semesta? Lalu kenapa Dia sampai memerlukan sesuatu? Tidakkah itu memperlihatkan bahwa Dia kekurangan? Markus tidak mau membawa kita masuk ke dalam perdebatan teologis yang sulit. Yang Ia mau lakukan adalah mendemonstrasikan arti kebesaran yang sesungguhnya dan cara untuk menjadi besar.

     Untuk menjadi besar dan terkemuka orang tidak harus menjadi senantiasa penuh-tak-berkekurangan. Ada waktunya di mana orang harus menjadi kekurangan dan membutuhkan bantuan dan pemberian orang lain. Orang-orang besar tidak merasa malu untuk mengungkapkan bahwa dirinya kekurangan sesuatu dan memerlukan sesuatu dari orang lain. Kekurangan dan kebutuhannya bukan sebuah kondisi yang harus diratapi tetapi justru harus dirayakan karena di situlah saat dan tempat bagi orang lain untuk menjadi besar dan terkemuka dengan cara melayani kebutuhan dan kekurangannya. Dua murid Yesus dan pemilik keledai muda itu mendapat kesempatan untuk menjadi besar dengan melayani Yesus permintaan dan keperluan Yesus.

      Selanjutnya, kebesaran yang sesungguhnya tidak ditentukan oleh kekuasaan yang orang miliki tetapi dari bagaimana orang memperlakukan sesamanya. Yesus menjungkir-balikkan arti kebesaran ketika Ia masuk Kota Yerusalem dengan seekor keledai. Para pahlawan biasanya masuk kota dengan kuda perangnya atau kereta yang dihiasi dengan gagah sambil dikelilingi oleh para prajurit yang gagah perkasa. Itulah yang diperbuat oleh Alexander Agung 300 tahun sebelumnya ketika masuk Kota Yerusalem atau 100-an tahun sebelumnya oleh Jenderal Pompei. Meski bukan pejabat kekaisaran dan bukan pula pejabat kerajaan namun masuknya Yesus ke Yerusalem disambut bak raja dan pahlawan besar. Yesus mencapai kebesaran ini bukan karena Ia telah menaklukkan kerajaan demi kerajaan dengan pedang dan kekuatan tentara tetapi karena apa yang dilakukan-Nya untuk manusia.

     Apa arti kebesaran hidup yang Anda yakini selama ini? Apakah di dalamnya ada ruang untuk tampil kurang dan miskin di hadapan sesama? Bagaimana cara Anda menjadi orang yang terpandang? Apakah dengan cara memiliki sederet gelar, atau suatu jabatan, atau suatu wewenang tertentu?  —Pdt. Markus Dominggus Lere Dawa

 

They that govern the most make the least noise. —John Selden
Monday, 26 March 2012 00:00

Diubah oleh Persoalan

Baca: 2 Korintus 4:16-18

Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami. (2 Korintus 4:17).

 

     Adakah di antara kita yang tidak pernah mengalami persoalan di dalam hidup ini? Tidak ada bukan? Setiap manusia yang hidup di dalam dunia ini, suka tidak suka, pasti suatu ketika harus diperhadapkan pada persoalan-persoalan kehidupan. Setiap persoalan kehidupan pasti membuahkan suatu perubahan. Ada perubahan yang negatif, dan ada juga yang positif. Pertanyaan untuk kita renungkan adalah: bagaimana dengan kita sebagai anak-anak Tuhan di dalam menghadapi persoalan kehidupan? Apakah kita akan berubah ke arah yang negatif atau positif? Kita akan bersama-sama belajar kepada Rasul Paulus.

     Rasul Paulus mengatakan bahwa ia tetap berserah diri kepada Tuhan yang selalu memelihara dan menjaganya, walaupun saat itu keadaan fisik Rasul Paulus sudah sangat payah (ayat 16). Kita tentu tahu bahwa Paulus memiliki suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan, yang ia sebut duri dalam daging. Kita memang tidak mengetahui secara persis apa penyakit Paulus, tetapi ada beberapa penafsir yang mencoba menafsirkan penyakit Rasul Paulus adalah kanker. Kepasrahan diri yang begitu dalam dari Paulus tersebut dinyatakan dengan satu kalimat “kami tidak tawar hati”. Rasul Paulus memiliki kepasrahan yang begitu dalam kepada Tuhan karena ia betul-betul memperbarui manusia batiniahnya dari hari ke hari. Artinya, ia senantiasa mengasah mental, batin, dan imannya.

     Dalam ayat 17, kita bisa melihat pola pikir Paulus berubah ke arah positif, yaitu menganggap penderitaannya sebagai penderitaan yang ringan, karena visinya jauh ke depan: menerima kemuliaan kekal, atau mahkota kehidupan. Pola pikirnya diubah dengan menganggap penderitaan yang ia alami jauh lebih ringan daripada “upah” yang nantinya akan ia terima, yaitu kemuliaan yang kekal. Dan pada akhirnya, dalam ayat 18, sikap dan pernyataan Paulus ditegaskan kembali bahwa, Paulus tidak memperhatikan yang kelihatan, atau tidak terfokus pada penderitaan yang ia alami di dunia ini, yang sifatnya fana, tetapi ia memperhatikan yang tidak kelihatan, yaitu kemuliaan surga yang kekal.

     Sebagai anak-anak Tuhan tentu yang diharapkan dari kita adalah perubahan yang  positif. Kita bisa bercermin kepada Paulus bahwa untuk menuju kepada perubahan yang positif, kita perlu mempunyai visi jauh ke depan, yaitu terus berpusat kepada Tuhan sendiri. Sebuah bejana saja baru dapat menjadi sebuah bejana yang indah, setelah ia mengalami proses yang cukup menyakitkan. Apalagi kita, tentu supaya hidup kita bisa menjadi indah, kita pun perlu melalui proses yang butuh perjuangan, bahkan mungkin penuh dengan penderitaan. —Pdt. David Nugrahaning Widi

 

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. —Yakobus 1:12
Sunday, 25 March 2012 00:00

Yerusalem

Baca: Matius 5:7-9

 

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9).

 

     Yerusalem digelari sebagai “Ratu Kota-kota Dunia” selama 30 abad. Tanpa memiliki kekayaan sebagai hasil bumi, kota ini dipilih Tuhan sebagai benteng monoteisme. Dari lembah-lembah tandus itu ahli-ahli filsafat, para rasul dan Kristus melontarkan ajaran akan moral dan mengasihi sesama manusia. Kota ini adalah pusat kota yang berhubungan dengan keagamaan dari setengah bagian dari seluruh manusia yang hidup di bumi ini. Bagi orang Yahudi kota ini sebagai simbol kejayaan masa lalu dan harapan mereka akan masa depan. Bagi umat Kristen, di kota ini Yesus menyampaikan khotbah terakhirnya, juga kota di mana Yesus mati dan bangkit. Yerusalem sebagai sumber keyakinan dan damai kota yang paling kudus.

     Namun, Yerusalem juga kota yang penuh dengan teror, perang dan tempat darah tertumpah. Pedang telah memakan nyawa anak-anak Yerusalem sepanjang sejarah kota itu. Terjadi banyak sekali pertempuran di pintu gerbang di kota itu lebih banyak dari kota lain mana pun di dunia ini. Berjalan berkeliling di Kota Yerusalem berarti melintasi lautan darah dan jutaan mayat yang telah terbunuh dan terkubur di tanah kota ini. Yerusalem telah diserbu sebanyak 50 kali, ditaklukan sebanyak 36 kali dan dihancurkan sebanyak 10 kali. Betapa lelahnya selama berabad-abad mendambakan kedamaian.

     Awalnya kota ini disebut dalam Alkitab, pada masa Abraham, dengan nama Salem yang berarti “damai” (Kejadian 14:18). Pada abad ke-10 SM, Raja Daud mengambil kota tersebut dari tangan Jebusites, mendirikan ibukota dan membawa tabut perjanjian ke dalam kota itu. Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: “Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa” (Mazmur 122:6). Saat kita berharap dan berdoa kepada Tuhan mohon kedamaian, maka akan turunlah suasana dari surga kedamaian itu.

     Setiap orang mendambakan kedamaian. Salah satu ciri anak Allah adalah pembawa damai bagi dunia ini. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Sudahkah ada damai di keluarga, lingkungan pekerjaan, dan pelayanan Anda? —Lydia Ong

 

Kita dipanggil untuk membawa damai
Saturday, 24 March 2012 00:00

Menikah

Baca: 1 Korintus 7:9

 

Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin daripada hangus karena hawa nafsu (1 Korintus 7:9).

 

     Dahulu, sebelum saya menikah, masih berstatus lajang atau jomblo, ada beragam cerita yang masuk di rekaman otak saya. Teman-teman yang sudah berpacaran bercerita mengenai orangtua dari pasangannya. Ada yang bercerita bahwa ibu pacarnya baik, ibunya galak, cara bicara ibunya sengak dan masih banyak lagi. Anehnya, tidak ada satu pun yang bercerita mengenai bapak pacarnya. Entah mengapa, sebagian besar teman saya merasa senang karena ibu pacarnya baik, tetapi ada yang di ambang keraguan untuk meneruskan hubungan karena ibu pacarnya tidak merestui. Ada teman yang berpacaran  sudah lebih dari tiga tahun, dan akan dilamar sang kekasih, tetapi belum siap karena kelak harus tinggal bersama mertua. Saya bertanya kepada dia, “Mengapa kamu belum siap tinggal  bersama mertua?” Jawab teman saya, “Sebetulnya aku tidak ada masalah dengan calon mertuaku, tetapi aku takut cerita orang-orang yang sudah menikah itu.”

     Kadang kala memang kita harus tebal telinga dan tebal hati, karena bisa jadi cerita dari orang lain itu hanya sebuah cerita karangan yang belum tentu kebenarannya. Mungkin lebih baik apabila kita berdoa dan memohon pencerahan dari Tuhan, agar hati kita lebih mudah melihat hal-hal baik.

     Ada banyak peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan ini, baik itu kebahagiaan maupun dukacita. Semuanya sudah diatur Tuhan dalam kehidupan kita, seperti yang disampaikan dalam Matius 19:12, “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga...” Tetapi kita harus mengerti bahwa menikah (kawin) adalah sesuatu yang lebih baik daripada berzina. Sebagaimana ditegaskan dalam 1 Korintus 7:9:Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin daripada hangus karena hawa nafsu. Memahami orang lain itu memang tidak mudah, tetapi apabila kita mau membuka hati untuk orang lain, maka orang lain pun akan membuka hatinya untuk kita. —Elisa Christanto

 

Menikah adalah menggabungkan pola pikir dan pola rasa dalam satu kehidupan yang penuh harmonisasi
Friday, 23 March 2012 00:00

Berpaling ke Lain Hati

Baca: 1 Raja-raja 11:1-13

 

Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta (1 Raja-raja 11:2).

 

     Siapa yang tak kenal dengan Salomo? Ia terkenal sebagai raja Israel yang paling berhikmat. Hikmat itu dimintanya dari Tuhan dan Tuhan senang dengan permohonan Salomo ini. Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini? Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian (1 Raja-raja 3:9-10).

     Sayangnya dalam perjalanan hidup selanjutnya Salomo memilih meninggalkan Tuhan, hatinya berpaling kepada para isteri dan gundiknya yang adalah perempuan-perempuan asing. Adapun Raja Salomo mencintai banyak perempuan asing... padahal tentang bangsa-bangsa itu Tuhan telah berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.” Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya daripada Tuhan. Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon, dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan, seperti Daud, ayahnya (ayat 1-6).

      Bagaimana dengan kita? Banyak yang semasa muda giat mengikut Tuhan, tetapi seiring dengan berjalannya waktu,  rupanya tak sedikit pula yang melupakan Tuhan dan berpaling ke lain hati. Bentuknya bisa macam-macam. Berpaling pada  harta, pekerjaan, keluarga, teman, orang-orang tercinta, kesenangan-kesenangan pribadi yang mendukakan Allah, keasyikan diri sendiri. Lebih memuja dan mendahulukan mereka daripada mengikuti kehendah Allah. Ada pula yang meninggalkan Tuhan karena masalah dan penderitaan yang bertubi-tubi  dialaminya.

     Jangan menunggu sampai murka Tuhan datang baru berbalik (ayat 9-11). Belum terlambat untuk berpaling kembali kepada Tuhan. —Liana Poedjihastuti

 

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. —Mazmur 119:11

<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>
Page 1 of 4

Profile Information

Application afterLoad: 0.000 seconds, 0.39 MB
Application afterInitialise: 0.069 seconds, 4.43 MB
Application afterRoute: 0.078 seconds, 5.22 MB
Application afterDispatch: 0.211 seconds, 9.42 MB
Application afterRender: 0.242 seconds, 10.53 MB

Memory Usage

11325888

24 queries logged

  1. SELECT *
      FROM jos_session
      WHERE session_id = 'ml6r4l237qcrve7bkuhqdtquu7'
  2. DELETE
      FROM jos_session
      WHERE ( TIME < '1371661788' )
  3. SELECT *
      FROM jos_session
      WHERE session_id = 'ml6r4l237qcrve7bkuhqdtquu7'
  4. INSERT INTO `jos_session` ( `session_id`,`time`,`username`,`gid`,`guest`,`client_id` )
      VALUES ( 'ml6r4l237qcrve7bkuhqdtquu7','1371662688','','0','1','0' )
  5. SELECT *
      FROM jos_components
      WHERE parent = 0
  6. SELECT folder AS TYPE, element AS name, params
      FROM jos_plugins
      WHERE published >= 1
      AND access <= 0
      ORDER BY ordering
  7. SELECT m.*, c.`option` AS component
      FROM jos_menu AS m
      LEFT JOIN jos_components AS c
      ON m.componentid = c.id
      WHERE m.published = 1
      ORDER BY m.sublevel, m.parent, m.ordering
  8. SELECT template
      FROM jos_templates_menu
      WHERE client_id = 0
      AND (menuid = 0 OR menuid = 0)
      ORDER BY menuid DESC
      LIMIT 0, 1
  9. SELECT *
      FROM jos_k2_categories
      WHERE published=1
      AND trash=0
      AND access<=0
  10. SELECT i.*, c.name AS categoryname,c.id AS categoryid, c.alias AS categoryalias, c.params AS categoryparams
      FROM jos_k2_items AS i
      LEFT JOIN jos_k2_categories AS c
      ON c.id = i.catid
      WHERE i.published = 1
      AND i.access <= 0
      AND i.trash = 0
      AND c.published = 1
      AND c.access <= 0
      AND c.trash = 0
      AND ( i.publish_up = '0000-00-00 00:00:00' OR i.publish_up <= '2013-06-19 17:24:48' )
      AND ( i.publish_down = '0000-00-00 00:00:00' OR i.publish_down >= '2013-06-19 17:24:48' )
      AND MONTH(i.created) = 3
      AND YEAR(i.created)=2012  
      ORDER BY i.created DESC
      LIMIT 0, 10
  11. SELECT COUNT(*)
      FROM jos_k2_items AS i
      LEFT JOIN jos_k2_categories c
      ON c.id = i.catid
      WHERE i.published = 1
      AND i.access <= 0
      AND i.trash = 0
      AND c.published = 1
      AND c.access <= 0
      AND c.trash = 0
      AND ( i.publish_up = '0000-00-00 00:00:00' OR i.publish_up <= '2013-06-19 17:24:48' )
      AND ( i.publish_down = '0000-00-00 00:00:00' OR i.publish_down >= '2013-06-19 17:24:48' )
      AND MONTH(i.created) = 3
      AND YEAR(i.created)=2012
  12. SELECT *
      FROM jos_k2_categories
      WHERE id = '1'
  13. SELECT COUNT(*)
      FROM jos_k2_comments
      WHERE itemID=810
      AND published=1
  14. SELECT COUNT(*)
      FROM jos_k2_comments
      WHERE itemID=809
      AND published=1
  15. SELECT COUNT(*)
      FROM jos_k2_comments
      WHERE itemID=808
      AND published=1
  16. SELECT COUNT(*)
      FROM jos_k2_comments
      WHERE itemID=807
      AND published=1
  17. SELECT COUNT(*)
      FROM jos_k2_comments
      WHERE itemID=806
      AND published=1
  18. SELECT COUNT(*)
      FROM jos_k2_comments
      WHERE itemID=805
      AND published=1
  19. SELECT COUNT(*)
      FROM jos_k2_comments
      WHERE itemID=804
      AND published=1
  20. SELECT COUNT(*)
      FROM jos_k2_comments
      WHERE itemID=803
      AND published=1
  21. SELECT COUNT(*)
      FROM jos_k2_comments
      WHERE itemID=802
      AND published=1
  22. SELECT COUNT(*)
      FROM jos_k2_comments
      WHERE itemID=801
      AND published=1
  23. SELECT id, title, module, POSITION, content, showtitle, control, params
      FROM jos_modules AS m
      LEFT JOIN jos_modules_menu AS mm
      ON mm.moduleid = m.id
      WHERE m.published = 1
      AND m.access <= 0
      AND m.client_id = 0
      AND ( mm.menuid = 0 OR mm.menuid = 0 )
      ORDER BY POSITION, ordering
  24. SELECT a.id, a.alias AS username, a.title AS fullname, a.catid, a.sectionid, a.introtext AS intro, u.email AS email, u.id AS user_id, CASE WHEN CHAR_LENGTH(a.alias) THEN CONCAT_WS(":", a.id, a.alias) ELSE a.id END AS slug, CASE WHEN CHAR_LENGTH(cc.alias) THEN CONCAT_WS(":", cc.id, cc.alias) ELSE cc.id END AS catslug
      FROM jos_content AS a
      LEFT JOIN jos_categories AS cc
      ON cc.id = a.catid
      LEFT JOIN jos_users AS u
      ON u.username = a.alias
      WHERE a.sectionid = 8
      AND a.state = 1

Language Files Loaded

Untranslated Strings Diagnostic

None

Untranslated Strings Designer

None