Gambar dan Rupa Allah : Manusia Berbudi Penggarap-Pemiara
Written by Heri MulionoBaca: Kejadian 1:26-31
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” ...... Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik... (Kejadian 1:26, 31).
Allah menciptakan dan menjadikan banyak hal, tapi hanya manusia yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah. Dengan demikian Allah memberi kuasa kepada manusia atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diberi kuasa atas makhluk lain—yang tidak diciptakan seturut gambar dan rupa Allah. Tapi manusia bukan pemilik Bumi, melainkan makhluk yang diciptakan Allah untuk menjadi menjadi penggarap dan pemiara. Tujuan penciptaan manusia sebagai makhluk ciptaan di Planet Bumi, sama dengan yang tertulis dalam Kejadian 2:15, ketika manusia ditempatkan dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
Manusia sangat berbeda dengan makhluk hidup lain yang hanya sekadar sebagai penggarap atau pengguna. Manusia bukan tetumbuhan, sekadar menjadi bagian dari sistem penopang kehidupan di Planet Bumi. Apalagi seperti detritivora, pemakan sisa-sisa tubuh dan buangan organisma, sekadar menjadi bagian dari sistem daur-ulang kehidupan. Manusia juga bukan herbivora, hewan pemakan tetumbuhan, atau karnivora —hewan pemakan daging, sekadar menjadi bagian dari sistem daur-ulang dan penopang kehidupan. Manusia tak selayaknya seperti hewan yang makan demi memenuhi rasa lapar tanpa peduli keberlanjutan spesies mangsanya. Meskipun di alam sangat jarang terjadi suatu spesies punah karena habis dimakan pemangsanya.
Tapi ternyata manusia berbuat sebaliknya. Banyak spesies tetumbuhan dan hewan punah, karena manusia memburu hingga habis atau merusak habitatnya. Banyak hutan dibabat menjadi lahan yang menambah pantulan panas ke udara, sehingga meningkatkan konsentrasi gas rumah-kaca di atmosfer. Bahkan manusia menggunakan gas yang memperbanyak aerosol perusak lapisan ozon dan menggunakan bahan bakar fossil kaya karbon (batubara, gas alam, minyak) yang melepas karbondioksida, meningkatkan konsentrasi gas rumah-kaca di atmosfer. Semuanya mengancam keberlanjutan kehidupan ciptaan Allah.
Manusia tak serupa dengan makhluk lain apapun yang hidup di dunia ini. Karena sebagai makhluk mirip Allah, manusia adalah makhluk berbudi, tak serupa dengan makhluk lain. Manusia tak serupa dengan dunia ciptaan Allah. Sebagai makhluk berbudi, manusia dikaruniai kemampuan untuk mengetahui dan memahami rancangan, cara kerja dan tujuan penciptaan Allah. Manusia berbudi mampu mengetahui kehendak Allah, mengenali dan membedakan yang baik dan yang buruk. Pesan Rasul Paulus kepada jemaat Kristen di kota Roma (Roma 12:2) sangat relevan untuk jemaat Kristen saat ini, agar kita memperbarui budi. —Heri Muliono
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. —Roma 12:2
Baca: Roma 5:5
Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5).
Kemarin saya menonton acara Master Chef 2 di televisi. Menurut saya acara ini masih jauh lebih bagus, daripada sinetron-sinetron yang cenderung kurang mendidik.
Ada satu hal yang menarik pada episode yang saya lihat ini, yaitu ketika peserta memasuki “pressure test” di mana dia harus berjuang agar tidak menjadi peserta yang harus pulang, jika masakannya tidak berhasil. Salah satu peserta ini menjadi pemenang dalam challenge sebelumnya, sehingga dia mendapat hadiah boleh meminta bantuan sesama peserta dalam “pressure test”. Akhirnya, si peserta ini pun meminta bantuan temannya yang dianggap bisa. Namun ternyata, si peserta yang telah meminta bantuan temannya ini pun terpaksa pulang, karena hasil masakannya kurang memuaskan.
Tentu hal itu menjadi dilema tersendiri bagi teman yang sudah membantunya, karena hasilnya, teman yang dibantunya harus pulang. Selain itu, bagi peserta yang sudah meminta bantuan, tentu merasa kecewa, karena teman yang diharapkan bisa membantunya pun tidak berbuah manis.
Peristiwa ini, tentu memberikan pelajaran kepada saya dan kita semua, bahwa terkadang memang kita tidak bisa terlalu mengharapkan bantuan dari orang lain. Semestinya, kita percaya pada kemampuan kita, dan kepada Dia, satu-satunya sumber kekuatan. Jika kita terlalu mempercayakan diri kepada pihak lain, selain Dia, kita akan menemui kekecewaan.
Hanya Tuhan saja yang akan selalu memuaskan keinginan kita, dan hanya Tuhan saja yang selalu memperbarui kekuatan kita. Bahwa mengandalkan Tuhan dalam segala hal adalah mutlak dan tidak akan pernah mengecewakan. —Elisa Christanto
Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. —Yesaya 58:11
Baca: Amsal 30:8
Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku (Amsal 30:8).
Tidak dapat dipungkiri, hidup dari zaman ke zaman semakin sulit. Secara khusus, kesulitan-kesulitan tersebut sering menimpa kaum pekerja menengah ke bawah. Apalagi dengan sebuah realitas bahwa pada saat ini biaya kebutuhan hidup begitu meningkat, namun pendapatan tetap saja di situ tak beranjak naik sedikit pun. Dengan kenyataan seperti itulah, sering membuat banyak orang menjadi putus asa, dan jika sudah putus asa, maka hal apa pun dapat dilakukan oleh seseorang, apalagi ada begitu banyak godaan di tempat kerja, yang dapat membuatnya terjatuh di dalam dosa. Edi, seorang office boy di perusahaan tempat saya dulu pernah bekerja, mengalami hal ini.
Sebagai seorang office boy, tentu tugas Edi adalah disuruh-suruh. Misalnya saja, disuruh membelikan makan siang karyawan, membelikan perlengkapan kantor, dan lain sebagainya. Saya adalah salah satu karyawan yang sering menyuruhnya membelikan makan siang, karena bagi saya, jam istirahat lebih asyik dan nyaman jika saya gunakan untuk memejamkan mata sejenak di ruangan yang sejuk ber-AC, daripada harus ke luar kantor di tengah panasnya terik matahari. Pada suatu ketika, Edi tidak masuk karena sakit. Maka pada hari itu, dengan terpaksa saya pergi ke luar untuk mencari makan siang di warung Padang, di mana seperti biasa Edi membelikannya untuk saya. Betapa terkejutnya saya, pada saat saya membayar nasi Padang dengan lauk daging rendang, ternyata saya hanya membayar Rp5.000,00 (pada saat itu), padahal jika Edi yang membelikannya, saya harus membayar Rp6.500,00 Untuk itulah, keesokan harinya pada saat Edi sudah masuk, saya bertanya kepadanya, “Lho Ed, saya kemarin beli nasi rendang kok cuma Rp5.000,00 tapi kalau kamu yang beli kok Rp6.500,00?” Namun, apa jawab Edi? Dengan enteng dia menjawab “Kan kalau saya yang beli ada komisinya, Pak.” Sungguh, saya sangat terperanjat dengan jawaban Edi. Tidak usah dia “main petak umpet” korupsi, sebetulnya saya sudah sering memberikan uang lebih kepadanya.
Itulah faktanya. Banyak orang yang sudah lupa akan keberadaannya sebagai orang beriman, yang seharusnya hidup dalam kejujuran, serta tidak tergoda untuk berbuat kecurangan. Oleh sebab itu, mari kiranya kita bisa meneladani Agur bin Yake, seorang yang begitu jujur dan tidak mau mengambil serta memakan apa yang bukan menjadi haknya. Dengan demikian, jika kita bisa memiliki sikap-sikap seperti Agur bin Yake, percayalah kita tidak akan mudah tergoda dengan godaan apa pun yang ada di sekitar kita. —Pdt. David Nugrahaning Widi
Tanpa kesengsaraan, seseorang jarang sekali mengetahui apakah dia jujur atau tidak.