Baca: Matius 19:16-24
Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah (Matius 19:24).
Ketika Tuhan Yesus berbicara tentang lobang jarum, bukanlah jarum jahit yang Ia maksudkan. Lobang jarum merupakan sebutan untuk dua balok kayu yang ditancapkan vertikal di tanah dengan jarak yang cukup rapat untuk mengapit seekor unta. Unta akan benar-benar tidak dapat bergerak sehingga dengan mudah bisa dimandikan. Setelah selesai dimandikan, saat tubuh unta masih basah, secara hati-hati hewan itu akan ditarik keluar dari lobang jarum.
Analogi lobang jarum dipakai Tuhan Yesus untuk menegaskan bahwa jika kita terlalu mencintai dan takut kehilangan apa yang kita miliki, akan membelenggu kita dalam menyempurnakan kasih kita kepada Tuhan. Yesus berkata, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu…” (Matius 19:21). Ketika si pemuda kaya diminta Yesus menghibahkan semua kekayaannya, dia bukan saja takut kehilangan hartanya, tetapi juga harga diri, status sosial dan kekuasaannya. Tangan si pemuda terus menggenggam hartanya, ia tidak ingin kehilangan apa pun, tetapi juga takkan pernah mendapatkan yang lebih baik selain yang digenggamnya.
Si pemuda takut menghadapi “realitas” hari esok yang tidak bisa melebur dalam akal sehatnya, tidak menyentuh panggilan hidupnya. John C. Maxwell menulis dalam Go for Gold, bahwa ketakutan hari ini akan membatasi keberhasilan kita di hari esok. Ini benar adanya, tidakkah ketika hari ini kita takut gagal, di hari esok kita takkan pernah mengenal keberhasilan? Ketika hari ini kita takut mengakui dosa dan kesalahan, di hari esok kita takkan mendapat pengampunan. Ketika hari ini kita membiarkan diri terpuruk, di hari esok niscaya keadaan akan semakin memburuk. Ketika hari ini kita lebih memilih status quo, di hari esok kita harus mau tergusur karena perubahan zaman.
Kita takut seperti si pemuda yang tidak bisa melihat yang terbaik di hari esok. Kita tidak percaya diri karena harapan kita kabur, kita takut melangkah dengan iman. Yesaya meyakinkan agar kita jangan takut, sebab Tuhan menyertai kita. Jangan bimbang, sebab Tuhan akan meneguhkan dan menolong kita. Tuhan akan memegang kita dengan tangan kanan-Nya yang membawa kemenangan (Yesaya 41:10). Allah tidak memberikan kepada kita roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Timotius 1:7). Tidak ada alasan kita takut menghadapi setiap kenyataan hidup ini. Tuhan bahkan ingin membuat kita menjadi papan pengirik yang tajam dan baru yang sanggup meratakan gunung-gunung, dan kita pun bisa membuat bukit-bukit seperti sekam (Yesaya 41:15). Kuncinya adalah, bagaimana kita memadamkan roh ketakutan dan menyalakan kekuatan Tuhan dalam diri kita.
Periksalah hati kita, apakah kita sangat takut kehilangan milik kita? Apakah kita terlalu berlebihan melindungi diri karena takut harga diri, kekuasaan, harta dan nikmat kita yang lain akan raib? Apakah semua itu membelenggu kita seperti diapit dua balok kayu di lobang jarum? Tetapi firman Tuhan hari ini ingin meyakinkan kita, bahwa ketakutan memang bisa membelenggu kita, tetapi Yesus dapat menarik kita keluar dari belenggu lobang jarum ketakutan itu, percayalah! —Agus Santosa
Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. —Mazmur 118:6
Baca: 1 Samuel 17:31-39
Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu daripada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan daripada Allah yang hidup (1 Samuel 17:36).
Menanggapi keinginan Daud untuk melawan Goliat, Saul menjawab, “Tidak mungkin... sebab engkau masih muda.” Pernyataan itu memiliki dua makna, yang pertama, usia Daud masih kecil. Dibandingkan dengan Goliat, usia Daud kalah jauh. Makna kedua adalah pengalaman Daud dalam berperang tidak ada. Bila sejak muda Goliat sudah menjadi prajurit, Daud baru saja akan mencoba menjadi prajurit. Goliat ahli dalam berperang, Daud baru akan mencoba berperang. Karena kondisi-kondisi ini maka Saul merasa sangsi Daud mampu mengalahkan Goliat.
Perasaan Saul masuk akal. Namun yang belum diketahui Saul adalah anak muda ini ternyata sudah mengalami hal-hal yang bahkan Saul dan tentaranya pun tidak pernah mengalaminya. Betul Daud tidak pernah berperang. Namun dalam pekerjaannya sebagai gembala kambing domba ayahnya, Daud sudah berulang kali terlibat dalam peperangan “satu lawan satu” melawan beruang atau singa. Ia tidak lari menyelamatkan diri ketika hewan-hewan buas itu datang melainkan “mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya” Bagaimana kalau binatang-binatang buas itu melawan? “hamba pegang lehernya dan pukul sampai mati” (1 Samuel 17:35, versi BIS).
Goliat tentu bukan singa atau beruang. Dan Saul sendiri pun dapat berargumen seperti itu. Namun Daud tahu bahwa yang dibutuhkan untuk melawan Goliat bukan pengalaman atau keahlian berperang seperti dia, yang sebenarnya dimiliki oleh Saul dan semua anggota pasukannya. Yang dibutuhkan adalah keberanian—keberanian yang sama seperti yang ia butuhkan untuk melawan binatang-binatang buas. Dan keberanian inilah yang sudah hilang dari Saul dan tentaranya (1 Samuel 17:24).
Sekali lagi, kisah ini membuat jelas bahwa jalannya sejarah bukan ditentukan oleh orang-orang yang berpengalaman, yang ahli dan terlatih. Ia ditentukan oleh para pemberani. Pada zaman Luther sebenarnya sudah banyak orang yang merasa kecewa dan mengeluhkan keadaan gereja dan masyarakat kala itu. Dan di antara mereka banyak sekali orang-orang yang berpengetahuan, berilmu dan berkuasa. Namun tak seorang pun yang berbuat sesuatu. Luther tidak berpengalaman dan hanya seorang rahib biasa. Tapi ia punya keberanian untuk mengatakan apa yang seharusnya dikatakan. Dan ketika ia mulai mengatakannya, maka dalam sekejap orang-orang yang tadinya diam itu mulai mengekor dan turut turun ke gelanggang. Sejak hari itu peradaban Eropa berubah.
Pengetahuan dan pengalaman lebih sering jadi acuan untuk mempekerjakan seseorang. Padahal, selain kedua hal itu, keberanian jauh lebih penting lagi. Sebab ia yang akan membawa pengetahuan dan pengalaman ke dalam pertarungan hidup yang kongkrit. —Pdt. Markus Dominggus Lere Dawa
One man with courage is a majority. —Andrew Jackson, mantan Presiden Amerika Serikat
Baca: 2 Korintus 6:11-18
Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (2 Korintus 6:14).
Jikalau kepada kita diajukan petanyaan, “Berbohong itu dosa atau tidak?” Tentulah kita semua akan menjawab dengan sepakat bahwa berbohong itu adalah tindakan berdosa. Sebab kita tahu, bahwa Tuhan menghendaki agar kita menghindari yang namanya kebohongan. Ia mengajak kepada kita semua untuk berkata benar tentang segala sesuatu. Sejak kecil kita diajar untuk bersikap jujur: “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya. Jika tidak hendaklah kamu katakan tidak.”
Namun, jikalau pertanyaannya kemudian sedikit diubah, “Jikalau ada orang yang berbohong dengan tujuan yang baik, apakah tindakan orang itu juga bisa dikatakan sebagai tindakan yang berdosa?” Mungkin tidak semua dari kita menjawab bahwa itu dosa. Ada di antara kita mungkin akan menjawab bahwa tindakan seperti itu bisa dikatakan tidak berdosa. Berbohong demi kebaikan merupakan salah satu bentuk “white lie” yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. White lie atau dosa putih adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk pada sebuah tindakan kurang baik yang tetap dilakukan dengan tujuan untuk kebaikan orang yang menerimanya.
Bagaimana sikap kita dengan hal-hal yang seperti itu? Apakah kita harus menyetujui dan membiarkannya? Firman Tuhan dalam 2 Korintus 6:14 mengatakan, “Janganlah mau menjadi sekutu orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus; itu tidak cocok. Mana mungkin kebaikan berpadu dengan kejahatan! Tidak mungkin terang bergabung dengan gelap.” Firman ini tentu dapat kita jadikan patokan untuk menyikapi perbuatan-perbuatan yang masuk dalam kategori white lie.
Kebohongan tetaplah kebohongan dan itu adalah tindakan yang tidak benar, sekalipun itu dilakukan demi tujuan yang baik. Kalaupun ada kebohongan yang menghasilkan kebaikan, pastilah kebaikan itu bersifat sementara, bukan selamanya. Siapa pun yang menerima kebaikan itu, kalau tahu dibohongi pastilah akan menjadi kecewa dan sakit hati. Tidak mungkin kita dapat memadukan kebaikan dengan kejahatan. Karena itu, marilah kita belajar untuk meninggalkan kebohongan dan mewujudkan kehidupan yang jujur. Katakanlah apa yang seharusnya dikatakan, sekalipun ada risiko yang harus kita tanggung di kemudian hari. —Pdt. Yonatan Wijayanto
Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk tetap mempertahankan kejujuran dan menghindari kebohongan di tengah langkah kerja kami. Amin.